Tampilkan postingan dengan label Strategy Marketing / Strategi Pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Strategy Marketing / Strategi Pemasaran. Tampilkan semua postingan

BNI Menggandeng Klub Chelsea

94829380968901826662.jpgChelsea sebuah klub sepak bola yang sudah tak asing lagi di dunia persepakbolaan digandeng oleh BNI dalam rangka penerbitan 200 ribu kartu cobranding dengan Chelsea Football Club (CFC) tahun ini. BNI menyiapkan program-program menarik yang memungkinkan untuk membangun minat calon pemilik baru kartu-kartu BNI berlogo khusus simbol-simbol Chelsea, baik dengan program BNI-Chelsea Payment Card Reward Goest to Stamford Bridge maupun program memboyong tim CFC ke Indonesia pada Juli 2013. 

Selain itu, ada kesempatan.... "Masih ada kesempatan untuk menjadi pengguna kartu BNI-Chelsea yang beruntung akan dibawa ke London untuk menyaksikan secara langsung pertandingan Chelsea pada tahun depan. Karena setidaknya kami masih menyelenggarakan program BNI-Chelsea Payment Card Reward Goest to Stamford Bridge ini hingga tiga tahun ke depan," kata Direktur Konsumer & Ritel BNI Darmadi Sutanto melalui rilis dari London, Inggris, Ahad, 14 April 2013. Darmadi di London mengajak 10 nasabah yang beruntung menyaksikan pertandingan babak Semi Final Piala FA di Stadion Wembley, antara CFC dan Manchester City. 

Bagi BNI, apresiasi maksimal pada para nasabah setia ini sangat layak diberikan karena dari target penerbitan kartu co branding BNI-Chelsea sebanyak 25.000 dalam setahun atau hingga Agustus 2013, ternyata sampai akhir Februari 2013 sudah mencapai 105.571 buah. Kerja sama antara BNI dan Chelsea ini diawali penandatanganan MoU antara Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo dengan pihak Chelsea pada Maret 2012. MoU ini ditindaklanjuti dengan peluncuran kartu-kartu co branding BNI-Chelsea pada Agustus 2012. 

Kartu co branding BNI-Chelsea diterbitkan secara lengkap yang terdiri atas kartu kredit, kartu debit, dan kartu prabayar, baik kartu debit edisi khusus dan reguler, kartu kredit edisi khusus dan reguler, ada juga kartu BNI-Chelsea untuk anak. Sejak peluncuran tersebut, minat masyarakat untuk memiliki kartu-kartu co branding BNI-Chelsea ini sangat besar. Ini terlihat dari pertumbuhan jumlah kartu yang diterbitkan setiap bulannya sejak Agustus 2012 hingga Februari 2013. 

Pertumbuhan tertinggi jumlah pemilik kartu kredit co branding BNI-Chelsea ini terjadi pada November 2012, yakni dari 3.577 pemilik kartu pada bulan November menjadi 12.969 pemilik pada Desember 2012, sehingga tumbuh 263 persen. itupun terus tumbuh menjadi 18.609 pada bulan Januari 2013 dan mencapai 24.501 kartu pada Begitu juga dengan kartu debit co branding BNI-Chelsea. Pertumbuhan jumlah kartu yang diterbitkan terjadi pada Januari 2013, yaitu naik dari 47.753 unit menjadi 81.520 atau tumbuh 71 persen. Jenis kartu debit yang paling banyak dimiliki adalah Kartu Debit Taplus Reguler yang telah mencapai 43.703 pemilik pada akhir Februari 2013 atau sekitar 53,61 persen dari total kartu co branding BNI-Chelsea yang diterbitkan. 

Statistik juga menunjukkan bahwa kepemilikan kartu-kartu co branding BNI-Chelsea ini bersifat aktif dilihat dari transaksi yang banyak dilakukan oleh para pemiliknya. Untuk kartu kredit co branding BNI-Chelsea, rata-rata nilai belanja setiap kartunya sebesar Rp 3,1 juta. Adapun untuk kartu debit co branding BNI-Chelsea, rata-rata nilai uang yang dibelanjakan sebesar Rp 808.679 setiap kartunya. 

Ayo siapa menyusul siapa ingin nonton Semi Final Piala FA di Stadion Wembley, antara CFC dan Manchester City, gratis. Miliki kartunya...!

Belawan International Container Terminal (BICT) Terapkan Paradigma Baru Dalam Pelayanan

Belawan International Container Terminal (BICT) kini menerapkan paradigma baru dalam memberikan pelayanan terbaiknya kepada pengguna jasa. Penerapan paradigma baru itu diikrarkan pada apel siaga yang dipimpin General Manager BICT Captain Tripiccanto dan diikuti seluruh pegawai di lapangan parkir BICT.

Keinginan untuk lebih baik lagi dari hari sebelumnya dalam memberikan pelayanan diikrarkan para pegawai dengan cara membubuhkan tanda tangan pada baliho bertuliskan Sapta Tekad yang isinya, pertama, pekerja BICT bekerja keras dengan ikhlas berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, menjunjung tinggi semangat disiplin dan kebersamaan, Ketiga, menghormati sesama pekerja. Keempat, melayani pengguna jasa dengan cepat, tepat dan ramah. Kelima, mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja. Keenam, mentaati aturan dan ketentuan yang berlaku, serta ketujuh, bangga menjadi pekerja perusahaan.

GM BICT Captain Tripiccanto BICT mengatakan, banyak kritik dari pengguna jasa terhadap kinerja BICT selama ini, Karena itu BICT harus melakukan perubahan dengan menerapkan paradigma baru dalam pelayanan. Tripiccanto juga meminta seluruh pegawai bekerja dengan paradigma baru yang sama sama telah diikrarkan dan ditandatangani. Kata Tripiccanto, salah satu bentuk pelayanan yang harus diterapkan adalah melayani pengguna jasa dengan cepat tanpa mengharapkan imbalan.


Pemberantasan Pungli Disepakati
Paradigma baru dalam pelayanan ternyata membawa dampak positif dalam kelancaran arus barang di BITC pasca aksi unjuk rasa para aliansi Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) dan supir truk pelabuhan beberapa waktu lalu.

Kini kalangan EMKL dan supir truk angkutan barang yang masuk areal BICT tak perlu lagi menyisihkan dana ekstra untuk pengurusan barang. Pasalnya, segala bentuk pungutan liar di BICT telah diharamkan dan ada tim monitoring yang telah dibentuk untuk mengawasi tindakan tercela itu. Segala bentuk pungli di BICT dijamin sudah tidak ada, karena ada tindakan tegas yang diberlakukan baik kepada yang memberi maupun yang menerima. Untuk menjamin hal itu tidak terjadi, ada tim yang memonitornya, ujar Manager Umum BICT Drs. H. Edy Zulkarnaen saat menggelar temu pers bersama Aliansi EMKLdan PSTP Belawan serta Ketua Komisi E DPRD Sumut Budiman Nadapdap di Hotel Emeral Garden Internasional Medan.

Zulkarnaen menyebutkan, selain dermaga internasioal yang telah menerapkan Single operator, penerapan Terminal Operator di BICT merupakan kebijakan yang harus dapat ditopang berbagai pihak termasuk kalangan EMKL dan supirtanpa harus adanya pungutan liar dan kendala keterlambatan dalam aktivitas bongkar muat peti kemas harus secepatnya diatasi.

Di balik itu tindakan pungli juga tidak dapat ditolerir, karena merugikan pihak tertentu. Manajemen akan menindak tegas pegawai yang melakukan pungli di dalam area kerja BICT sedangkan aliansi EMKL dan PSTP juga wajib menindak tegas anggotanya apabila masih memberikan dana tidak resmi dalam proses pelayanan bongkar muat, kata Zulkarnaen menyebutkan antara lain isi kesepakatan itu.

Selain itu, I Wayan Wirawan Manager Operasi BICT menambahkan, pihaknya juga menambah alat bongkar muat untuk menghindari antrian truk untuk mengangkut peti kemas. Pada Bulan Mei 2009 sebanyak 4 unit reachtaker dan 4 RFG sudah dapat dioperasikan yang sebelumnya masing masing 2 unit ujarnya. Selain hapusnya pungli, BICT juga mengutamakan proses pelayanan receiving/delivery, bahkan selama masa transisi belum terpenuhnya tuntutan, pihak EMKL dibebaskan dari denda penumpukan kontainer dan tetap mengacu pada tarif yang telah ditentukan.

Ketua Komisi E DPRD Sumut Budiman Nadapdap menyambut baik upaya duduk sebangku antara aliansi EMKL, Persatuan Supir Truk Pelabuhan dan BICT untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di BICT.

Budiman berharap beberapa kesepakatan yang telah diambil bersama dapat disosialisasikan ke masyarakat. Itu berarti kita sudah punya tanggung jawab moral dalam menjaga pelabuhan yang merupakan asset bangsa, katanya. Secara terpisah Ketua PSTP Belawan M. Rabaini dan Aliansi EMKL Syamsuri menyambut baik upaya dan niat semua unsur membenahi pelayanan di BICT, apalagi mengingat pelabuhan peti kemas dibawah naungan Pelabuhan I Medan adalah asset bangsa yang harus dijaga dan tetap menjadi milik bangsa dan rakyat Indonesia.


Source : portal.bumn.go.id/pelindo1

Pengertian Franchise dan Franchise di Indonesia

Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahklan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, keculai kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee.

Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King. Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia. Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter. Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an.


Definisi:
Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee misalnya lewat pelatihan, di bawah merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri.
Sedangkan menurut British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual oleh satu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) dengan:
  • Mengijinkan atau meminta franchisee menjalankan usaha dalam periode tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimiliki oleh franchisor.
  • Mengharuskan franchisor untuk melatih kontrol secara kontinyu selama periode perjanjian.
  • Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya.
  • Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee.

Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba. Campbell Black dalam bukunya Black’’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut.

David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor.

Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati.

Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan.

Sementara itu, menurut PP No.16/1997 waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.


Kriteria Segmen Pasar Yang Baik

Seperti yang diulas pada artikel marketing sebelumnya bahwa terdapat beberapa pilihan segemntasi, namun segmentasi seperti apa sih yang baik. Untuk itu sebelum suatu segmen dipilih, maka selayaknya ditentukan terlebih dahulu beberapa kriteria yang harus dipenuhi, antara lain sebagai berikut:

  1. Dapat diukur. Ukuran, daya beli, dan profil segmen dapat diukur.
  2. Besar. segmen cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani. Suatu segmen harus merupakan kelompok homogen terbesar yang paling mungkin, yang berharga untuk diraih dengan program pemasaran yang dirancang khusus untuk mereka.
  3. Dapat diakses. Segmen dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
  4. Dapat dibedakan. Segmen-segmen secara konseptual dapat dipisah-pisahkan dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap elemen dan bauran pemasaran yang berbeda. Jika wanita yang telah menikah dan belum menikah memberi tanggapan yang sama atas penjualan parfum, mereka bukanlagh segmen yang terpisah.
  5. Dapat diambil tindakan. Program-program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen-segmen tersebut.

Tujuan Segmentasi Pasar

Secara umum segmentasi mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan posisi kompetisi perusahaan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen. Selain tujuan utama tersebut terdapat tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti, menigkatkan penjualan, memperbaiki pangsa pasar, melakukan komunikasi dan promosi yang lebih baik, dan memperkuat citra. Setidaknya terdapat 5 keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar yaitu:

1. Mendisain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar. Perusahaan menempatkan konsumen di tempat yang utama, dan menyesuaikan produknya untuk memuaskannya (customer satisfaction at a profit)

2. Menganalisis pasar Segmentasi pasar membantu eksekutif mendeteksi siap saja yang menyerang pasar produknya.

3. Menilai peluang (niche) Setelah menganalisis pasar, perusahaan yang menguasai konsep segmentasi dengan baik akan sampai pada ide untuk menemukan peluang. Peluang ini tidak selalu sesuatu yang besar, tetapi pada masanya akan menjadi besar.

4. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif Perusahaan yang menguasai segmen dengan baik umumnyaadalah mereka yang paham betul konsumennya. Perusahaan memahami pergeseran-pergeseran yang terjadi di dalam segmennya.

5. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien. Setelah mengetahui segmen yang dituju, maka perusahaan akan menentukan bagaimana berkomunikasi yang baik dengan segmen yang dituju.

Membentuk Segmen Berdasarkan Ciri-ciri Konsumen

Untuk dapat menentukan suatu segmentasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi yang paling relevan. Konsumen mempunyai perbedaan dalam banyak hal dan masing-masing berpotensi membentuk segmen, namun kenyataannya tidak semua variabel ini akan bermanfaat untuk semua situasi. Sebagai contoh untuk consumer markets variables yang sesuai adalah demographic, geographic, socio economic, psichographics. Masing-masing variabel tersebut dapat digunakan untuk menentukan segmentasi namun harus dipilih secara hati-hati agar sesuai dengan produk yang akan diteliti segmentasinya dan disesuaikan dengan kondisi yang paling relevan.

Beberapa periset berusaha membentuk segmen dengan dengan mengamati ciri-ciri konsumen. Biasanya yang digunakan adalah ciri-ciri geografis, demografis, dan psikografis. Segmentasi Geografis membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda seperti negara, negara bagian, propinsi, kota, atau lingkungan. Segmentasi demografis dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis seperti, usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial. Sementara segmentasi psikografis membagi kelompok yang berbeda bersadarkan kelas sosial, gaya hidup, dan / atau kepribadian.


Bauran Pemasaran Jasa Menurut Kotler

Pada dasarnya bauran pemasaran menunjukkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan saat menentukan strategi pemasaran suatu perusahaan jasa. Titik awal untuk membuat segala keputusan tentang bauran pemasaran tergantung pada bagaimana jasa harus diposisikan dan segmen pasar yang harus dituju.

Manfaat menggunakan kerangka bauran pemasaran adalah bahwa kerangka tersebut memberi kecocokan antara bermacam-macam unsur-unsur yang harus dipertimbangkan. Selama ini banyak sekali perdebatan tentang apa yang harus dimasukkan dalam kerangka bauran pemasaran untuk jasa.

Namun pada akhirnya Kotler menambahkan tiga komponen dari bauran pemasaran tradisional “4P”, sehingga pada pemasaran jasa terdapat 7 (tujuh) unsur, yaitu:
  1. Produk. Produk atau jasa yang sedang ditawarkan.
  2. Harga. Jumlah uang yang dikeluarkan oleh konsumen untuk membeli sebuah produk.
  3. Promosi. Program komunikasi yang berhubungan dengan pemasaran produk atau jasa.
  4. Tempat. Fungsi distribusi dan logistik yang dilibatkan dalam rangka menyediakan produk dan jasa sebuah perusahaan.
  5. Manusia. Proses seleksi, pelatihan, dan pemotivasian karyawan, yang nantinya dapat digunakan sebagai pembedaan perusahaan dalam memenuhi kepuasan pelanggan.
  6. Bukti fisik dan yang mewakili (Physical Evidence and Presentation). Bukti fisik yang dimiliki oleh penyedia jasa yang ditujukan kepada konsumen sebagai usulan nilai tambah konsumen.
  7. Proses. Proses penyajian jasa.


Perilaku Konsumen dan Bauran Pemasaran 7P

Beragamnya produk-produk yang dihasilkan perusahaan memungkinkan konsumen untuk lebih selektif dalam memilih suatu produk yang ditawarkan. Dengan adanya iklim persaingan yang ketat menyebabkan suatu perusahaan harus memperhatikan dan memahami perilaku konsumen dalam memutuskan pembelian produk. Hal ini karena perilaku konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan.

Adanya berbagai produk perusahaan yang ditawarkan akan memberikan alternatif kepada konsumen untuk memilih produk serta memutuskan pada perusahaan mana ia akan menjadi konsumen. Keadaan ini menyebabkan timbulnya persaingan tajam baik antar perusahaan maupun antar produk yang ada.

Untuk berhasil menghadapi persaingan, maka konsep pemasaran yang berorientasi pada konsumen (consumer oriented) menjadi penting. Dalam konsep tersebut mendasarkan bahwa kegiatan pemasaran suatu perusahaan dimulai dengan usaha mengenal dan memahami keinginan dan kebutuhan konsumen. Selanjutnya adalah menyusun dan merumuskan suatu kombinasi dari bauran pemasaran 7 P yaitu :
  1. Product (Produk),
  2. Promotion (Promosi),
  3. Price (Harga),
  4. Place (Distribusi),
  5. People (Orang),
  6. Physical environment (lingkungan fisik)
  7. Process (Proses) setepat mungkin agar kebutuhan para konsumen dapat dipenuhi.


8 Tips to Increase Your Brand Value

Here are 8 tips on what you can do to have an immediate impact on adding value to your brand:
1. Stay on top of your customer needs Be “high touch” with your A-level customers, build solid relationships, and keep tabs on their problems. Regular customer visits, reviews and network events are great ways to strengthen the relationship and expand your network at the same time.

2. Be visible to your customers Make sure they’re continually aware of your value; try to remind them of your value strategically. Offering an updated version of your product or tagging on a free service are good ways of letting your customer know you are constantly improving. Convince your customer that your existence makes their lives easier.

3. Know your competition Always be on the lookout for what others are doing out there. Be ready to explain your value proposition versus your competitors’. You must be able to provide the facts to back up your claims. It will make you more competitive–just like how all the restaurants are offering smaller portion meals in their own way.

4. Go the extra mile Do things that are outside the scope of your business. Go above and beyond your normal routine by solving their “other” problems. This will help you stand out from the competition.

5. Reward loyalty Similar to the rewards program, give your customer something more for sticking with you or using your products and services. It could be tickets to a baseball game, gift certificates or discounts for doing business with you in the future.

6. Try new ideas If you’re in a highly commoditized market, you need to think about where you make your profits. A lot of times there is no point in competing on price or service alone. Try new ideas like the “freemium” model where it may be worth it to give some of your products or services for free and charge for value-adds or premium account later. Gmail is free because Google makes their money from ads displayed in Gmail, giving them more advertising channels. Some Apple iPhone basic apps are free because they have a full version that will cost money.

7. Improve experience The entire experience in doing business with your company should be present from start to finish. Try to make every step as frictionless as possible and think from your customer’s perspective. They should know they can contact you with their concerns and that you will respond quickly and effectively. This also creates great leverage for word of mouth marketing.

8. Include a human element Many companies don’t focus enough on humanizing their brand. As a result, customers can feel out of touch. They need to feel like they are more than customers. Logos, slogans, taglines and websites are just references– they’re marketing vehicles. Besides receiving your newsletters, brochures, emails and phone calls, allowing your customer to reach you in other engaging ways can help your company grow.



Source : Eric Tsai

What Defines a Good Brand ?

If you go by numerous of the republican labels across generations, numerous of the bulk remembered trademarks are those that unite with their consumers, deliver a remove outcome, and install customer loyalty.

Building a brand is not an straightforward thing to do. It takes a lot of time, motion, and currency, and you don’t receive to presume the trophies immediately. Trademarks such as Nike, Ford, Pepsi, or Coca-Cola don’t eventuate overnight. It takes a where to build a brand that population will remember you by, a brand that consumers essentially construe or one they overtly ask for, or a brand that will endorse them to act.

Here are more account ad tips that can augment you in your brand-building efforts:

- Have a logo or a trademark written for your brand. It has to be something defining and something that sets your brand apart. It ought be memorable and essentially recognizable.

- Craft a tagline that delivers your aftermath clearly. Some of the best taglines are those we remember later a brand is decades old, which goes to demonstrate how determined the brand examine is.

- Make exercise of dissimilar types of media for your account promotion. A tool that tips in your favor is the Internet because it’s cheaper than traditional media. Internet tools such as blogging, social networking, and online surveys augment in scholarly your consumers and their compensating for decisions.

- Get to know the industry by uniting trade shows. This involves a extensive estimate of currency, but not basically will this augment you know every one any person who your contenders are, it will also augment you receive to know customers every one any person who can give you feedback on how to transform your product.

- Get yield surveys in the hands of consumers. This is one of the more extensive account ad practices

- Learn from the pros. Study successful brands. There’s none boulevard to a successful brand, so it is essentially a trial-and-error thing.

If one strategy doesn’t venture, endeavour another one. Get account ad tips from other entrepreneurs.

Brand makeup is a concerted motion in producing your brand visible. If these account ad tips don’t venture for you, pinpoint other ways that might venture for your brand. Remember that no couple labels are the same, and it is constituent of your tour as a marketer to examine what processes will merit you success.



By: Remy Lebeau

Pemasaran Jasa Tidak Cukup Dengan Pemasaran Eksternal (4P)

Kata 4 P (Product, Price, Promotion, Place) mungkin manjadi kata yang paling sering didengar atau diucapkan oleh mahasiswa atau siapapun yang bergelut di dunia marketing. Dalam sektor industri jasa 4 P ini atau disebut juga pemasaran eksternal tidak kuat perannya bila tidak ditunjang oleh pemasaran lainnya.

Menurut Kotler pemasaran jasa tidak saja memerlukan pemasaran tradisional 4P (pemasaran eksternal), tetapi juga dua strategi pemasaran lainnya, yaitu pemasaran internal dan pemasaran interaktif.

Pemasaran eksternal menggambarkan kerja normal yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempersiapkan, menentukan harga, mendistribusikan, dan mempromosikan jasa tersebut kepada konsumen.

Pemasaran internal menggambarkan pekerjaan yang dilakukan perusahaan untuk melatih dan mendorong pelanggan internalnya, yaitu karyawan penghubung pelanggan dan karyawan pendukung pelayanan untuk bekerja sebagai sebuah tim agar dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Pemasaran interaktif menjelaskan keahlian karyawan dalam menangani hubungan pelanggan. Dalam pemasaran jasa, mutu pelayanan ditentukan oleh yang melakukan pelayanan. Konsumen yang menikmati jasa dan menilai mutu jasa tidak saja dari sudut pandang mutu teknisnya, tapi juga didasarkan atas mutu fungsionalnya.

Positioning at the Trough

Seven simple steps to successfully position your brand to benefit from the ever-growing 2009 government stimulus programs.

As democrats, republicans, conservatives, liberals, socialists, capitalists, Keynesians or Greenspansians, we have all taken refuge around the rallying cry, “They are too big to let fail”. Billions have turned in to trillions and the government assistance trough has never looked fuller or more important to the success of American brand capitalism.

2008 saw once invincible brands fall, one after another. As a result, the modern view of branding and its relative importance and value to an organizations success, has taken a very large blow.
The auto companies flew to Washington with brands a blazing, only to be escorted to the door with their tails between the legs.
For weeks, media pundits commented on the big three CEO’s poor performance, but the bigger brand story remains untold.

These three gentlemen are very lucky today, for not even the existing Bush or incoming Obama stood up for them. The gentlemen were saved by their companies’ brands. Despite their three brands incredible mismanagement, they were positioned to be among the first to line up at the rapidly growing government trough.

Their story of brand mismanagement, repositioning, reinvestment and commitment can serve us all in better understanding the importance of brand, it’s meaning, power, role and value in a successful free market economy. These lessons are laid out as 7 simple steps every brand, big or small, can take to successfully position itself to benefit from the ever-growing 2009 government stimulus programs.

1. Focus on the right business At first glance this appears obvious and in many ways it is, but after years of helping clients rethink this question and refocus their answer, it’s power to set to direct and set the proper tone for the entire organization becomes crystal clear.

The big three, (GM, Ford, and Chrysler) went to Washington asking for billions to bail out the car companies, “the backbone of American business”. By simply redefining and focusing their business on developing better transportation vs. building cars, they would have communicated that they were looking for support in building our future rather than sustaining their past.

2. Use a bit of brand contrition Nobody has stepped to the front of the class to explain what has caused this current economic crisis. The blame, right or wrong, is being placed at everyone’s’ feet, and your brand must accept some of that responsibility.
The internet, cable news, cell phones, etc., have put all brands under much more scrutiny today, and brands within site, sound, or text of the government feeding frenzy are under a virtual microscope.
Flying on corporate jets or over reacting and personally driving over 20 hours does not show contrition or sensitivity, simply defiant arrogance.
Take a step back, out of your office, plane, car, and country club and take a moment to view your brand from the perspective of your new additional customers: taxpayers, politicians, and pundits.

3. Understand the difference between confidence and arrogance Brand Ford did the best job of the big three at this over the last 90 days. They brought out both Bill Ford, ex CEO, and recently appointed CEO, Allen Mulally to make their case. Bill Ford, the green visionary shackled as a quintessential industry insider, and Allen Mulally, the industry outsider from Boeing who is credited with turning that massive organization around with the successful Dream Liner. The result is a leadership team that demonstrates contrition (Bill Ford) and confidence (Allen Mulally).

Together they are helping to build a brand that communicates confidence rather than displaying arrogance. An organization that recognizes they do have all of the answers, but that is committed to taking the steps necessary to get the job done.

4. Extend your brand benefits from consumers to taxpayers to society This is perhaps the toughest challenge in today’s environment, fall short and you could walk away with no money and more regulations. Over state your brand’s benefits and you will suffer the consequences of being seen as just another slick marketer.

The big three get a passing grade in this area. They clearly went overboard when making claims that no one other than they could build cars in America and export them on their scale. We all have seen Honda, Toyota, and BMW do it, not to the same scale, but the strength of their brands tell us they could if given the opening.
Much better was the many little stories showcasing the extent to the big three’s reach into the American economy. The thousands of big and small suppliers that are spread across America, many owned by families and supporting small town diners, governments, and churches.

5. Differentiate yourself with urgency Many more brands are beginning to get in line for government billions; soon the line will grow into a large crowd. Quickly government prioritization will not only be determined by desperate need, but urgent action. Desperation in some cases works, as in the case of financial services and auto sectors, but quickly Americans are getting tired of the screams for help, and are rather turning towards the calls for urgent action.

Communicating a sense of urgency correctly comes with an understanding of reality and inspiration that says our brand is ready to contribute to turning this economy around NOW. A colleague of mine, Denis Riney, categorizes these brands as “Shovel ready” as a means to communicate they are ready to take advantage of the proposed billions promised to flow in the name of infrastructure reinvestment.

6. Keep your message consistent The big three utterly failed on this one and as a result looked inept and confused as they spun around chasing their tails. On the other hand we have to look no further than Barack Obama and his brand manager David Axelrod for a contemporary case study that will be sure to be studied by brand marketers for years to come.
Brand Obama stayed focused on “change” through out the campaign as others, most notably Clinton, chased focus groups changing her message so many times no one remembers what she was trying to communicate.

7. Don’t be afraid to say no Sometimes the most powerful brand message is to say no. Charles Schwab quickly said no to federal banking bail out funds reinforcing the long-term brand message of no-nonsense, trusted and unbiased financial advisory services. A number of smaller regional banks have chosen to pass on federal assistance helping to differentiate them selves and instill consumer confidence.
Ford attempted to do this by saying no to loans but yes to a line of credit. If they passed on the industries trek to seek handouts from Washington they may have differentiated themselves from their competitors while building some real brand value, but instead this nuance was lost with of all their valued brand constituents from consumers and the media to union and government leaders.

GE is perhaps the best example of a firm that desperately needed the cash, but strategically chose to protect their brands reputation and instead stuck a deal with legendary investor Warren Buffet under much less favorable financial terms, but much better brand terms.
Whether you need to position your brand at our government’s money trough to simply survive or expand in to the emerging high growth opportunities that infrastructure, energy, education, and healthcare will bring, follow these 7 simple branding stimulus steps: Focus, Contrition, Confidence, Expansion, Urgency, Consistency, and not being afraid to say No. Big or small your brand will be better positioned to benefit from the ever-growing 2009 government stimulus programs.


Many will say the melt down of 2008 was the year branding died, but to those I say good-bye and good-riddance.

2009 will be the year that reestablished how important a tool a well-positioned brand is to driving an organization to new levels of success, and that should inspire us all.

_____________
By Bill Engler - a recognized industry thought leader and Principal with BrandLogic, the nations leading independent brand consultancy.

Last Update Artikel Marketing:

Blog Link: