Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan

BNI Menggandeng Klub Chelsea

94829380968901826662.jpgChelsea sebuah klub sepak bola yang sudah tak asing lagi di dunia persepakbolaan digandeng oleh BNI dalam rangka penerbitan 200 ribu kartu cobranding dengan Chelsea Football Club (CFC) tahun ini. BNI menyiapkan program-program menarik yang memungkinkan untuk membangun minat calon pemilik baru kartu-kartu BNI berlogo khusus simbol-simbol Chelsea, baik dengan program BNI-Chelsea Payment Card Reward Goest to Stamford Bridge maupun program memboyong tim CFC ke Indonesia pada Juli 2013. 

Selain itu, ada kesempatan.... "Masih ada kesempatan untuk menjadi pengguna kartu BNI-Chelsea yang beruntung akan dibawa ke London untuk menyaksikan secara langsung pertandingan Chelsea pada tahun depan. Karena setidaknya kami masih menyelenggarakan program BNI-Chelsea Payment Card Reward Goest to Stamford Bridge ini hingga tiga tahun ke depan," kata Direktur Konsumer & Ritel BNI Darmadi Sutanto melalui rilis dari London, Inggris, Ahad, 14 April 2013. Darmadi di London mengajak 10 nasabah yang beruntung menyaksikan pertandingan babak Semi Final Piala FA di Stadion Wembley, antara CFC dan Manchester City. 

Bagi BNI, apresiasi maksimal pada para nasabah setia ini sangat layak diberikan karena dari target penerbitan kartu co branding BNI-Chelsea sebanyak 25.000 dalam setahun atau hingga Agustus 2013, ternyata sampai akhir Februari 2013 sudah mencapai 105.571 buah. Kerja sama antara BNI dan Chelsea ini diawali penandatanganan MoU antara Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo dengan pihak Chelsea pada Maret 2012. MoU ini ditindaklanjuti dengan peluncuran kartu-kartu co branding BNI-Chelsea pada Agustus 2012. 

Kartu co branding BNI-Chelsea diterbitkan secara lengkap yang terdiri atas kartu kredit, kartu debit, dan kartu prabayar, baik kartu debit edisi khusus dan reguler, kartu kredit edisi khusus dan reguler, ada juga kartu BNI-Chelsea untuk anak. Sejak peluncuran tersebut, minat masyarakat untuk memiliki kartu-kartu co branding BNI-Chelsea ini sangat besar. Ini terlihat dari pertumbuhan jumlah kartu yang diterbitkan setiap bulannya sejak Agustus 2012 hingga Februari 2013. 

Pertumbuhan tertinggi jumlah pemilik kartu kredit co branding BNI-Chelsea ini terjadi pada November 2012, yakni dari 3.577 pemilik kartu pada bulan November menjadi 12.969 pemilik pada Desember 2012, sehingga tumbuh 263 persen. itupun terus tumbuh menjadi 18.609 pada bulan Januari 2013 dan mencapai 24.501 kartu pada Begitu juga dengan kartu debit co branding BNI-Chelsea. Pertumbuhan jumlah kartu yang diterbitkan terjadi pada Januari 2013, yaitu naik dari 47.753 unit menjadi 81.520 atau tumbuh 71 persen. Jenis kartu debit yang paling banyak dimiliki adalah Kartu Debit Taplus Reguler yang telah mencapai 43.703 pemilik pada akhir Februari 2013 atau sekitar 53,61 persen dari total kartu co branding BNI-Chelsea yang diterbitkan. 

Statistik juga menunjukkan bahwa kepemilikan kartu-kartu co branding BNI-Chelsea ini bersifat aktif dilihat dari transaksi yang banyak dilakukan oleh para pemiliknya. Untuk kartu kredit co branding BNI-Chelsea, rata-rata nilai belanja setiap kartunya sebesar Rp 3,1 juta. Adapun untuk kartu debit co branding BNI-Chelsea, rata-rata nilai uang yang dibelanjakan sebesar Rp 808.679 setiap kartunya. 

Ayo siapa menyusul siapa ingin nonton Semi Final Piala FA di Stadion Wembley, antara CFC dan Manchester City, gratis. Miliki kartunya...!

Belawan International Container Terminal (BICT) Terapkan Paradigma Baru Dalam Pelayanan

Belawan International Container Terminal (BICT) kini menerapkan paradigma baru dalam memberikan pelayanan terbaiknya kepada pengguna jasa. Penerapan paradigma baru itu diikrarkan pada apel siaga yang dipimpin General Manager BICT Captain Tripiccanto dan diikuti seluruh pegawai di lapangan parkir BICT.

Keinginan untuk lebih baik lagi dari hari sebelumnya dalam memberikan pelayanan diikrarkan para pegawai dengan cara membubuhkan tanda tangan pada baliho bertuliskan Sapta Tekad yang isinya, pertama, pekerja BICT bekerja keras dengan ikhlas berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, menjunjung tinggi semangat disiplin dan kebersamaan, Ketiga, menghormati sesama pekerja. Keempat, melayani pengguna jasa dengan cepat, tepat dan ramah. Kelima, mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja. Keenam, mentaati aturan dan ketentuan yang berlaku, serta ketujuh, bangga menjadi pekerja perusahaan.

GM BICT Captain Tripiccanto BICT mengatakan, banyak kritik dari pengguna jasa terhadap kinerja BICT selama ini, Karena itu BICT harus melakukan perubahan dengan menerapkan paradigma baru dalam pelayanan. Tripiccanto juga meminta seluruh pegawai bekerja dengan paradigma baru yang sama sama telah diikrarkan dan ditandatangani. Kata Tripiccanto, salah satu bentuk pelayanan yang harus diterapkan adalah melayani pengguna jasa dengan cepat tanpa mengharapkan imbalan.


Pemberantasan Pungli Disepakati
Paradigma baru dalam pelayanan ternyata membawa dampak positif dalam kelancaran arus barang di BITC pasca aksi unjuk rasa para aliansi Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) dan supir truk pelabuhan beberapa waktu lalu.

Kini kalangan EMKL dan supir truk angkutan barang yang masuk areal BICT tak perlu lagi menyisihkan dana ekstra untuk pengurusan barang. Pasalnya, segala bentuk pungutan liar di BICT telah diharamkan dan ada tim monitoring yang telah dibentuk untuk mengawasi tindakan tercela itu. Segala bentuk pungli di BICT dijamin sudah tidak ada, karena ada tindakan tegas yang diberlakukan baik kepada yang memberi maupun yang menerima. Untuk menjamin hal itu tidak terjadi, ada tim yang memonitornya, ujar Manager Umum BICT Drs. H. Edy Zulkarnaen saat menggelar temu pers bersama Aliansi EMKLdan PSTP Belawan serta Ketua Komisi E DPRD Sumut Budiman Nadapdap di Hotel Emeral Garden Internasional Medan.

Zulkarnaen menyebutkan, selain dermaga internasioal yang telah menerapkan Single operator, penerapan Terminal Operator di BICT merupakan kebijakan yang harus dapat ditopang berbagai pihak termasuk kalangan EMKL dan supirtanpa harus adanya pungutan liar dan kendala keterlambatan dalam aktivitas bongkar muat peti kemas harus secepatnya diatasi.

Di balik itu tindakan pungli juga tidak dapat ditolerir, karena merugikan pihak tertentu. Manajemen akan menindak tegas pegawai yang melakukan pungli di dalam area kerja BICT sedangkan aliansi EMKL dan PSTP juga wajib menindak tegas anggotanya apabila masih memberikan dana tidak resmi dalam proses pelayanan bongkar muat, kata Zulkarnaen menyebutkan antara lain isi kesepakatan itu.

Selain itu, I Wayan Wirawan Manager Operasi BICT menambahkan, pihaknya juga menambah alat bongkar muat untuk menghindari antrian truk untuk mengangkut peti kemas. Pada Bulan Mei 2009 sebanyak 4 unit reachtaker dan 4 RFG sudah dapat dioperasikan yang sebelumnya masing masing 2 unit ujarnya. Selain hapusnya pungli, BICT juga mengutamakan proses pelayanan receiving/delivery, bahkan selama masa transisi belum terpenuhnya tuntutan, pihak EMKL dibebaskan dari denda penumpukan kontainer dan tetap mengacu pada tarif yang telah ditentukan.

Ketua Komisi E DPRD Sumut Budiman Nadapdap menyambut baik upaya duduk sebangku antara aliansi EMKL, Persatuan Supir Truk Pelabuhan dan BICT untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di BICT.

Budiman berharap beberapa kesepakatan yang telah diambil bersama dapat disosialisasikan ke masyarakat. Itu berarti kita sudah punya tanggung jawab moral dalam menjaga pelabuhan yang merupakan asset bangsa, katanya. Secara terpisah Ketua PSTP Belawan M. Rabaini dan Aliansi EMKL Syamsuri menyambut baik upaya dan niat semua unsur membenahi pelayanan di BICT, apalagi mengingat pelabuhan peti kemas dibawah naungan Pelabuhan I Medan adalah asset bangsa yang harus dijaga dan tetap menjadi milik bangsa dan rakyat Indonesia.


Source : portal.bumn.go.id/pelindo1

PT TELKOM Dukung Layanan ICT untuk PT POS

PT TELKOM melalui Divisi Enterprise (Dives) melakukan kerjasama dengan PT Pos Indonesia dalam hal Sinergi Pemanfaatan Sumber Daya Perusahaan. Penandatanganan kerjasama dilaksanakan pada tanggal 26 Juni 2009 di Kantor Pos Kebonrojo oleh Deputy Executive General Manager (DEGM) Dives TELKOM Joni Santoso dengan Wakil Dirut PT Pos I Ketut Mardjana. Dalam kerjasama tersebut, TELKOM berkomitmen menyediakan layanan Information and Communication Technology (ICT) berbasis VPN IP untuk administrasi PT Pos se Indonesia. Penandatanganan kerjasama juga disaksikan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.

Kerjasama antara TELKOM dan PT Pos dilatarbelakangi oleh adanya satu layanan baru berbasis ICT yang diluncurkan PT Pos dan disebut Gerakan Excellent Service Berbasis IT (GesIT) Layanan GesIT itu, berbagai program dijadikan, di antaranya Wasantara Spot. Layanan GesIT bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa Kantor Pos telah memiliki layanan berbasis IT, baik yang dikelola sendiri maupun secara kemitraan.

Menurut I Ketut Mardjana, layanan IT PT Pos berupa akses free hotspot bagi pengguna internet di sekitar Kantor Pos (Wasantara Spot). Surabaya merupakan kota ketiga yang melayani Wasantara Spot, setelah Jakarta dan Denpasar. Ada juga aplikasi Track and Trace yang berguna sebagai pelacak pergerakan pos oleh kostumer dan apliakasi Mail Processing Center di ranah back office di sejumlah kota.

DEGM DIVES, Joni Santoso menambahkan, dengan adanya teknologi berbasis VPN IP untuk pemanfaatan sumber daya di PT Pos tersebut maka antar Kantor Pos bisa saling berkomunikasi dengan mudah. Johi mengatakan bahwa ada opportunity bisnis lain bagi PT Pos yaitu pengembangan payment point dari mitra-mitra bisnis seperti Bank Syariah Mandiri dan Perusahaan FIF. Nantinya, PT Pos tidak hanya bergerak di bidang surat manual saja, tapi juga di bisnis transaksional.


Source : portal.bumn.go.id/telkom

Pengertian Franchise dan Franchise di Indonesia

Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahklan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, keculai kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee.

Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King. Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia. Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter. Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an.


Definisi:
Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee misalnya lewat pelatihan, di bawah merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri.
Sedangkan menurut British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual oleh satu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) dengan:
  • Mengijinkan atau meminta franchisee menjalankan usaha dalam periode tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimiliki oleh franchisor.
  • Mengharuskan franchisor untuk melatih kontrol secara kontinyu selama periode perjanjian.
  • Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya.
  • Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee.

Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba. Campbell Black dalam bukunya Black’’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut.

David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor.

Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati.

Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan.

Sementara itu, menurut PP No.16/1997 waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.


Pentingnya Data Bagi Dunia Marketing

Bayangkan, pemerintah yang memiliki kekuatan dan kemampuan besar untuk menggali data pun seringkali pusing mencari data, apalagi perusahaan swasta yang mengandalkan data dari pemerintah?

Memang, setiap kali membuat perencanaan pemasaran, salah satu hal yang membuat orang pemasaran pusing adalah soal data. Mereka selalu bingung, data semacam apa yang harus mereka cari untuk dijadikan dasar pembuatan perencanaan pemasaran. Kalau pun mereka tahu data apa yang harus mereka cari, pertanyaan berikutnya adalah, dimana mereka harus mencari data tersebut.

Mencari data di Indonesia memang ibarat mencari jarum di tengah jerami. Kalau Anda hanya sendirian mencarinya, tidak akan ketemu. Namun kalau Anda mempergunakan banyak orang untuk mencari, kemungkinan menemukannya pun jauh lebih besar. Jadi, mungkin bukan susah mencarinya tapi biaya untuk mencarinya bisa besar sekali (karena Anda membutuhkan lebih banyak usaha). Itu pun belum tentu menghasilkan data yang 100 persen akurat. Contoh paling sering yang ditanyakan oleh para pemasar adalah bagaimana mencari data market share.

Mengapa tidak mudah bagi para pemasar untuk mencari data market share? Lihat saja, 70 persen channel distribusi (untuk consumer product) mempergunakan channel tradisional seperti toko kelontong, pasar, asongan, dan lain-lain. Channel seperti ini banyak sekali dan titiknya tersebar di mana-mana. Jika Anda ingin melakukan pengumpulan data relatif lebih sulit dan lebih lama dibandingkan di negara maju. Pedagang kecil mana punya data yang canggih? Semua penjualan ditulis ke dalam buku tulis. Bahkan pedagang asongan pun hanya mencatat di selembar kertas bekas bungkus rokok.

Pada negara-negara maju, sebagian besar ritel disana sudah mempergunakan teknologi informasi seperti barcode sehingga kuantitas dan nilai penjualan pun dengan cepat terdokumendasi. Makanya di sana data market share bisa cepat diketahui.

Lucunya, kadang-kadang kita menemukan data yang kita inginkan secara tidak sengaja. Seorang pemasar pernah ingin mencari tahu berapa pertumbuhan industri dari produk yang dijualnya. Berminggu-minggu keluar masuk departemen, namun hasilnya tidak pernah ada.

Akhirnya, jawabannya ditemukan lewat sebuah koran yang sudah mau dibuang. Di dalam koran tersebut ada pernyataan dari Dirjen Pajak yang mengeluarkan statement bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di sektor industrinya bertumbuh tahun lalu sebesar 7 persen. Artinya, kalau diasumsikan industri dimana dia memasarkan produknya kira-kira bertumbuh 7 persen. Lumayan juga untuk memperkuat perencanaan, sekalipun menemukannya di tong sampah!

Dalam dunia marketing research ada dua jenis penggalian data. Pertama adalah data yang digali lewat sumber-sumber yang bersifat primer. Contohnya adalah data dari konsumen langsung. Kedua adalah data yang digali dari sumber yang bersifat sekunder. Artinya, data diperoleh dari pihak lain yang telah melakukan penggalian data. Contohnya adalah melalui departemen, BPS, Bank Indonesia, dan lain-lain.

Menggali data lewat sumber primer relatif memang jauh lebih mahal. Anda harus mempergunakan tim pencari data yang cukup besar. Sebaliknya, untuk menggali data sekunder, Anda hanya membutuhkan sedikit orang yang ke luar masuk institusi untuk meminta data. Hanya saja di Indonesia, kredibilitas data sekunder seringkali menjadi pertanyaan.

Hal yang sering menjadi masalah dalam penggalian data adalah kejujuran dari subyek data. Banyak perusahaan yang sering low profile ketika berhubungan dengan pihak pajak, namun menjadi high profile ketika berbicara untuk urusan publikasi. Artinya, penjualan di laporan pajak dikecil-kecilin, namun kalau diwawancara angkanya dibesar-besarkan. Dalam kasus BLT pun, banyak orang yang mengaku-aku termasuk golongan miskin ketika ditanya. Makanya bantuan akhirnya bisa salah sasaran.

Di sisi lain, masih banyak pelaku bisnis yang kurang menghargai data. Melihat kasus sang pemasar itu, berapa sih sebenarnya nilai data tersebut? Kalau dilihat cara dia menemukan data tersebut di tong sampah, data tersebut barangkali tidak akan dinilai tinggi. Contoh lain, banyak pelaku bisnis melihat ukuran data dari tebalnya laporan data. Semakin tebal semakin mahal. Tapi kalau cuma selembar, apalagi cuma satu angka berarti semakin murah. Tapi cobalah melihat proses yang harus dijalani selama berhari-hari untuk mencari satu angka tersebut, barangkali si pemasar rela mengeluarkan satu juta rupiah ketimbang opportunity lost yang terjadi gara-gara mencari data.

Dengan berbagai masalah ini, pada akhirnya orang-orang pemasaran lebih sering mempergunakan banyak asumsi data ketika melakukan perencanaan. Bahkan yang lebih ekstrim, ada yang tidak percaya data sama sekali dan mengandalkan pada insting. Bagaimanapun, insting kadangkala memang benar sekalipun tidak selalu benar. Adanya data sebenarnya lebih bertujuan untuk memperkuat keyakinan dibandingkan menjadi alasan untuk menjalankan strategi. Tapi kalau kebanyakan asumsi, ya lebih baik mempergunakan strategi yang bersifat tembak langsung. Dalam kasus BLT akhirnya bukan Bantuan Langsung Tunai tapi BTL (Bantuan Tembak Langsung!).



Oleh : PJ Rahmat Susanta
Source : detikpublishing.com

Dell Indonesia Tingkatkan Layanan Teknis Pada Pelanggan

Layanan pada pelanggan sudah menjadi urat nadi keberhasilan perusahaan, hal ini disadari oelh Dell Indonesia yang mengumumkan peningkatan layanan Dell ProSupport dengan penyediaan layanan telepon 24 jam. Kini para pelanggan Dell dapat secara langsung memesan dan menyesuaikan layanan dengan kemampuan teknis yang dimiliki secara lebih mudah dan cepat.

“Para pelanggan dan mitra kami meminta Dell melakukan terobosan dukungan cepat ‘one size fits all’ untuk membantunya dalam menyesuaikan dengan kebutuhan yang semakin beragam, global, dan pengoperasian mission critical TI,” jelas Pieter Lydian, Director and Country Manager Dell Indonesia dalam keterangan tertulisnya kemarin (27/8).

Dell ProSupport menghadirkan kemampuan dan fitur-fitur baru yang sangat penting yang mempermudah pelanggan untuk mendapatkan paket dukungan yang sesuai pada saat yang tepat dan terpercaya.

Penawaran Dell ProSuport meliputi ProSupport for IT dan ProSupport for End-Users. ProSupport for IT meliputi dukungan 24 jam/7hari seminggu seperti Fast Track Dispatch, layanan solusi cepat untuk para professional yang memiliki sertifikat TI dengan pengiriman secara cepat komponen-komponen dan para teknisi Dell ke lokasi untuk organisasi yang tidak memiliki bagian /divisi TI, seperti usaha kecil dan menengah

Sementara itu, dukungan ProSupport for End-Users merupakan dukungan untuk aplikasi-aplikasi yang umum digunakan para end-user, seperti Microsoft Windows Small Business Server, Intuit QuickBooks dan konfigurasi akses nirkabel.
Dell ProSupport juga memiliki pilihan-pilihan modular yang disesuaikan dengan tantangan operasional TI sehari-hari, seperti pilihan untuk mission critical data center, tim pemasaran yang mobile/remote, dan lingkungan virtualisasi. Dell mengklaim layanan dukungan teknis ini dapat meminimalkan kesalahan-kesalahan teknis hingga 37 persen dan critical downtime sampai 48 persen.

Layanan dukungan ini kini dapat diakses secara mudah oleh para pelanggan di Indonesia melalui layanan telepon 24 jam. Pelanggan Dell yang belum mendaftarkan diri sebagai pelanggan Dell ProSupport dapat menghubungi 001-803-60-1926 (Indosat) atau 007-803-601-5229 (Telkom). Sementara bagi pelanggan yang juga telah menjadi pelanggan Dell ProSupport, Dell Indonesia menyediakan nomor khusus di 021-500858.

Dell ProSupport saat ini telah menjangkau di 10 kota besar di Indonesia meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Batam, Medan, Pekan Baru, Balikpapan dan Makassar.


Pemasaran Jasa Tidak Cukup Dengan Pemasaran Eksternal (4P)

Kata 4 P (Product, Price, Promotion, Place) mungkin manjadi kata yang paling sering didengar atau diucapkan oleh mahasiswa atau siapapun yang bergelut di dunia marketing. Dalam sektor industri jasa 4 P ini atau disebut juga pemasaran eksternal tidak kuat perannya bila tidak ditunjang oleh pemasaran lainnya.

Menurut Kotler pemasaran jasa tidak saja memerlukan pemasaran tradisional 4P (pemasaran eksternal), tetapi juga dua strategi pemasaran lainnya, yaitu pemasaran internal dan pemasaran interaktif.

Pemasaran eksternal menggambarkan kerja normal yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempersiapkan, menentukan harga, mendistribusikan, dan mempromosikan jasa tersebut kepada konsumen.

Pemasaran internal menggambarkan pekerjaan yang dilakukan perusahaan untuk melatih dan mendorong pelanggan internalnya, yaitu karyawan penghubung pelanggan dan karyawan pendukung pelayanan untuk bekerja sebagai sebuah tim agar dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Pemasaran interaktif menjelaskan keahlian karyawan dalam menangani hubungan pelanggan. Dalam pemasaran jasa, mutu pelayanan ditentukan oleh yang melakukan pelayanan. Konsumen yang menikmati jasa dan menilai mutu jasa tidak saja dari sudut pandang mutu teknisnya, tapi juga didasarkan atas mutu fungsionalnya.

Harapan Konsumen Dalam Memilih Penyedia Jasa

Tentunya banyak sekali pengharapan konsumen pada penyedia jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Namun Zeithaml mengelompokkannya dalam beberapa faktor penting di mana konsumen memilih penyedia jasa, yaitu :

1. Komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth communication)
Informasi yang didengar dari konsumen lain merupakan determinan pengharapan yang potensial. Contohnya, seseorang mengharapkan kualitas pelayanan yang baik dari sebuah persewaan tempat untuk acara resepsi atas dasar rekomendasi dari teman atau tetangganya.


2. Kebutuhan pribadi (personal needs)
Pengharapan seseorang juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan keadaan perorangan, atau dengan kata lain dipengaruhi oleh kebutuhan pribadinya. Contohnya, pengguna telepon genggam sebagian ingin pemakaian pulsanya dapat dikendalikan dengan membeli voucher pulsa atau pra bayar, atau ada yang menginginkan pemakaian pulsa tanpa batas dengan menggunakan fasilitas pasca bayar.


3. Pengalaman masa lalu (past experience)
Pengalaman pemakaian jasa pada masa lalu juga dapat mempengaruhi tingkat pengharapan konsumen. Contohnya, pengguna jasa konstruksi mempunyai harapan yang tinggi terhadap kualitas dan disain suatu bangunan, dan dia akan mengesampingkan perilaku dari kontraktornya.


4. Komunikasi eksternal (external communication)
Komunikasi eksternal yang diberikan perusahaan baik secara langsung maupun tak langsung memegang peranan penting dalam membentuk pengharapan konsumen. Contohnya, iklan yang menggambarkan lingkungan hotel yang nyaman, asri, dan pelayanan yang ramah dari karyawannya.



Pengertian Kualitas Jasa

Dalam kehidupan sehari-hari sadar atau tidak Kita dilingkupi oleh berbagai jasa yang melayani aktivitas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sejak berkembangnya sektor industri jasa, kualitas jasa telah menjadi masalah penting bagi seluruh umat konsumenLebih-lebih pada saat ini, dengan meningkatnya intensitas persaingan dan jumlah pesaing menuntut setiap perusahaan untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen serta berusaha memenuhi harapannya dengan cara lebih memuaskan daripada yang dilakukan oleh pesaing.

Menurut Kotler salah satu cara dalam membedakan perusahaan jasa adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaing secara konsisten. Sementara Zeithaml mendefinisikan kualitas jasa sebagai berikut:

“…service quality, as perceived by customers, can be defined as the extent of discrepancy between customers’ expectations or desires and their perseption.”

Jadi menurut kedua pakar tersebut kualitas jasa dapat diperoleh dengan cara membandingkan antara pengharapan konsumen dengan penilaian mereka terhadap kinerja yang sebenarnya.
Setelah menerima pelayanan, konsumen akan membandingkan antara pelayanan yang diharapkan dan pelayanan yang mereka terima. Jika pelayanan yang diterima berada di bawah pelayanan yang diharapkan, konsumen akan tidak puas dan kehilangan kepercayaan terhadap penyedia jasa tersebut. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima sesuai atau melebihi pelayanan yang diharapkan, konsumen akan puas. Jadi kuncinya adalah menyesuaikan atau melebihi harapan konsumen.

Konsep Marketing

Marketing merupakan faktor yang sangat penting dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan. Pada umumnya perusahaan perusahaan yang menitikberatkan kegiatan usahanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen mengenal suatu falsafah yang mendasari usahanya untuk mencapai tujuan jangka panjang yang sering disebut dengan konsep Marketing.

Kotler memberikan suatu konsep tentang tujuan organisasi yang disebut konsep Marketing, yaitu:
“….the key to achieving its organizational goals consists of the company being more effective than competitors in creating, delivering, and communicating superior customer value to its chosen target market.”

Berdasarkan definisi tersebut tampak bahwa konsep Marketing memusatkan pada pencapaian tujuan organisasi secara lebih efektif, daripada pesaing dalam berkreasi, mendistribusikan, dan mengkomunikasikan nilai yang superior kepada target marketnya. Hal ini mencerminkan bahwa konsep Marketing merupakan upaya organisasi untuk mencapai tujuannya melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan target marketnya secara lebih baik daripada pesaingnya. Pemenuhan kebutuhan dan keinginan akan menciptakan kepuasan konsumen, dan melalui kepuasan konsumen inilah suatu perusahaan akan dinilai lebih baik daripada perusahaan lainnya. Apabila kepuasan konsumen secara terus menerus terpelihara dengan baik, maka konsumen akan sulit meninggalkan perusahaan dan peluang perusahaan untuk memenangkan persaingan yang ketat akan semakin mudah.

Pengertian Perilaku Konsumen

Studi mengenai perilaku konsumen adalah sangat penting dalam menjalankan konsep pemasaran suatu perusahaan. Tanpa adanya suatu pemahaman dan pengertian tentang konsumen sasaran, suatu perusahaan tidak dapat dikatakan telah menjadikan konsep pemasaran sebagai pedoman walaupun perusahaan tersebut telah menjalankan fungsi pemasarannya dengan baik. Untuk mengetahui dengan jelas perilaku konsumen ini, seorang pemasar harus melakukan penelitian sebagai langkah awal untuk mengetahui motivasi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.


Dalam konsep pemasaran telah dijelaskan bahwa kepuasan konsumen merupakan salah satu tujuan yang harus dicapai. Kebutuhan, sikap dan perilaku konsumen mempengaruhi setiap aspek dari strategi pemasaran. David L. Loudan dan Albert Delta Bitta menjelaskan perilaku konsumen sebagai berikut:
“…the decision process and physical activity individual engage in when evaluating, acquiring, using or disposing of good and service.”

Menurut Swastha dan Handoko, “Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa, termasuk di dalam proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan tersebut.”
Pengertian perilaku konsumen menurut Engel adalah: “…activities directly involved in obtaining, consuming, and disposing of products and services, including the decision processes that precede and follow these actions.”

Dari definisi di atas disimpulkan adanya 2 elemen penting dalam mempelajari perilaku konsumen, yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik yang kesemuanya melibatkan individual di dalam menilai, mendapatkan, dan mempergunakan barang dan jasa ekonomis.

Pengertian Jasa

Menurut Kotler jasa didefinisikan sebagai berikut:
“…setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain. Pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin atau mungkin tidak berkaitan dengan produk fisik.”

Menurut J. Stanton:
“Service are those separately identifiable, essentially intangible activities which provide want-satisfaction, and which are not necessary tied to the sale of a product or another service. To produce service may or may not require the use of tangible goods. However, when such use is required, there is no transfer of the title (permanent ownership) to these tangible goods.”

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa jasa adalah merupakan hasil produksi dan pemuas keinginan yang tidak berwujud, dalam usaha menghasilkan jasa, dapat dengan atau tanpa bantuan produk berwujud, dan kalaupun dalam usaha jasa tersebut digunakan produk berwujud maka pembeli tidak mempunyai hak kepemilikan atas barang yang digunakan.

Pengertian Marketing

Kata “marketing atau pemasaran” sudah tidak asing bagi telinga banyak orang. Namun apa sih arti atau definisinya ? Banyak pakar marketing atau pemasaran mengartikan dengan berbagai pendapat, inilah pendapat tersebut :

Pengertian marketing telah banyak dikemukan oleh para ahli antara lain oleh Kotler yang mendefinisikan pemasaran sebagai,”a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering , and freely exchanging products and services of value with others.”

Suatu proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai secara bebas dengan pihak lain.

Menurut The American Marketing Association yaitu: “The process of planning and executing conception, pricing, promotion, and distribution of ideas, goods, and services to create exchanges that satisfy individual and organizational goals”.

Masih banyak lagi definisi-definisi lain yang dikemukakan oleh ahli pemasaran. Dari kedua definisi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa proses pemasaran terjadi sebelum produk diproduksi. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan dari konsumen pada pasar sasarannya, menentukan produk, harga, dan media promosi yang serta menentukan saluran distribusi yang tepat. Kegiatan pemasaran meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang bertujuan menciptakan kepuasan melalui proses pertukaran.




Semoga bermanfaat …...

Last Update Artikel Marketing:

Blog Link: